Bisnis Es Doger Gibran dan Strategi Modernisasi Kuliner Lokal
Fenomena bisnis kuliner di Indonesia telah mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam satu dekade terakhir. Jika dahulu minuman tradisional seperti es doger hanya bisa ditemukan di gerobak pinggir jalan dengan standar sanitasi yang bervariasi, kini narasi tersebut telah berubah total. Salah satu aktor utama di balik transformasi ini adalah bisnis es doger Gibran yang dikemas melalui jenama bernama Goola.
Goola hadir bukan sekadar sebagai penjual minuman, melainkan sebagai sebuah upaya kurasi budaya yang dibalut dengan sentuhan modernitas. Strategi yang diterapkan dalam mengembangkan bisnis es doger Gibran ini menjadi studi kasus menarik bagi para pelaku industri F&B (Food and Beverage) mengenai bagaimana sebuah produk 'ndeso' bisa naik kelas ke mal-mal premium dan mendapatkan perhatian dari investor modal ventura kelas global. Melalui artikel ini, kita akan membedah secara mendalam struktur bisnis, strategi pemasaran, hingga dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh langkah berani putra sulung Presiden ke-7 Indonesia tersebut.
Evolusi Bisnis Es Doger Gibran Melalui Brand Goola
Lahirnya bisnis es doger Gibran yang diberi nama Goola bermula dari sebuah kegelisahan sederhana. Gibran Rakabuming Raka melihat bahwa tren minuman kekinian di Indonesia didominasi oleh produk-produk luar negeri seperti Thai Tea dan Bubble Tea dari Taiwan. Di sisi lain, kekayaan kuliner cair Indonesia seperti es doger, es teler, dan es kacang hijau seolah terlupakan dan terjebak dalam stigma 'kurang higienis' atau 'tidak praktis'.
Diluncurkan pertama kali pada tahun 2018, Goola mengambil posisi sebagai first-mover dalam kategori minuman tradisional Indonesia yang dikemas dengan gaya modern. Konsepnya jelas: membawa cita rasa autentik pasar tradisional ke dalam gelas plastik praktis (grab-and-go) yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat urban. Penggunaan nama 'Goola' sendiri mencerminkan identitas lokal yang manis namun mudah diingat oleh lidah internasional.
Dalam pengembangannya, bisnis es doger Gibran ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga menjual pengalaman. Mereka melakukan standardisasi pada bahan baku santan, sirup, hingga tekstur es serutnya. Es doger yang biasanya disajikan dalam mangkuk keramik di pinggir jalan, kini bertransformasi menjadi minuman dengan topping mutiara (bobba lokal), daging kelapa segar, dan tape singkong yang dikelola dengan standar quality control ketat.

Suntikan Modal Alpha JWC Ventures dan Skalabilitas Bisnis
Salah satu momen paling fenomenal dalam perjalanan bisnis es doger Gibran adalah saat Goola berhasil mendapatkan suntikan modal sebesar US$ 5 juta atau sekitar Rp 71 miliar dari Alpha JWC Ventures pada tahun 2019. Pendanaan ini menjadi bukti nyata bahwa bisnis minuman tradisional memiliki nilai ekonomi (valuation) yang sangat tinggi di mata investor jika dikelola secara profesional.
Modal besar tersebut dialokasikan untuk mempercepat ekspansi gerai dan memperkuat infrastruktur teknologi. Gibran menyadari bahwa untuk bersaing di pasar modern, sebuah bisnis harus memiliki konsistensi rasa di setiap cabang. Oleh karena itu, investasi pada pusat distribusi (central kitchen) dan sistem rantai pasok menjadi prioritas utama untuk memastikan es doger di Jakarta memiliki kualitas yang sama dengan yang ada di kota-kota lainnya.
Strategi Standardisasi Rasa dan Kualitas
Mengubah produk UMKM menjadi produk massal bukan perkara mudah. Dalam bisnis es doger Gibran, tantangan terbesarnya adalah menjaga kesegaran santan dan tape. Goola menggunakan teknologi pengemasan dan penyimpanan yang memungkinkan bahan-bahan sensitif ini tetap terjaga mutunya tanpa menghilangkan karakter rasa aslinya. Inilah yang membedakan Goola dengan pedagang es doger konvensional yang seringkali bergantung pada intuisi tanpa takaran yang pasti.
Modernisasi Menu Tradisional Selain Es Doger
Meskipun es doger menjadi hero product, Goola juga melakukan diversifikasi menu untuk menjaga minat konsumen. Produk-produk seperti Es Merdeka (sirup merah putih), Es Cin-Na-Mon, dan Es Teler dikembangkan dengan riset mendalam. Diversifikasi ini penting dalam bisnis es doger Gibran agar brand tidak dianggap membosankan dan mampu menjangkau berbagai segmentasi usia, mulai dari anak muda yang menyukai tren hingga orang tua yang ingin bernostalgia.
| Aspek Perbandingan | Es Doger Tradisional (Kaki Lima) | Es Doger Goola (Bisnis Gibran) |
|---|---|---|
| Kemasan | Gelas kaca / Plastik kiloan | Plastic cup PET high quality |
| Lokasi | Pinggir jalan / Pasar | Mal / Area komersial premium |
| Standardisasi | Tergantung perasaan penjual | SOP ketat & takaran pasti |
| Harga | Rp 5.000 - Rp 10.000 | Rp 20.000 - Rp 40.000 |
| Metode Pembayaran | Tunai | Cashless (QRIS, OVO, Gopay) |
Tabel di atas menunjukkan bagaimana transformasi nilai tambah (value added) yang dilakukan dalam bisnis es doger Gibran. Dengan menaikkan standar pada aspek non-rasa (seperti kemasan dan lokasi), nilai jual produk bisa meningkat hingga empat kali lipat tanpa kehilangan peminat.

"Kami ingin menjadikan minuman tradisional Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan dikenal di mancanegara, sejajar dengan brand internasional lainnya." - Visi pengembangan Goola.
Tantangan dan Keberlanjutan Bisnis Kuliner Tradisional
Meskipun memiliki modal besar dan nama besar di belakangnya, bisnis es doger Gibran tidak lepas dari tantangan industri. Pandemi COVID-19 yang melanda tak lama setelah pendanaan besar menjadi ujian berat bagi bisnis yang mengandalkan trafik pengunjung mal. Banyak gerai yang harus melakukan penyesuaian operasional dan beralih fokus ke layanan pengiriman daring (online delivery).
Selain itu, persaingan di industri minuman kekinian sangatlah dinamis. Munculnya brand-brand kopi susu gula aren dan gerai es krim viral lainnya menuntut Goola untuk terus berinovasi. Namun, kekuatan utama dari bisnis es doger Gibran terletak pada identitas kulturalnya. Selama masyarakat Indonesia masih memiliki keterikatan emosional dengan kuliner masa kecil, produk seperti es doger akan selalu memiliki pangsa pasar yang loyal.
Pelajaran berharga dari model bisnis ini adalah pentingnya 'Storytelling'. Goola tidak hanya menjual air dan es, mereka menjual kebanggaan akan identitas lokal. Dengan menggunakan copywriting yang menarik dan visualisasi yang estetis di media sosial, mereka berhasil meyakinkan generasi milenial dan Gen Z bahwa meminum es doger adalah hal yang keren (cool).

Vonis Strategis untuk Rebranding Kuliner Lokal
Melihat rekam jejak yang ada, bisnis es doger Gibran melalui brand Goola telah berhasil meletakkan fondasi baru bagi industri kuliner lokal. Keberhasilan mereka mendapatkan pendanaan ventura menjadi katalisator bagi pengusaha muda lainnya untuk tidak malu mengangkat menu-menu tradisional ke level yang lebih tinggi. Strategi yang mereka gunakan—yakni mengawinkan resep warisan dengan manajemen modern—adalah cetak biru (blueprint) yang sangat relevan untuk UMKM masa kini.
Vonis akhir untuk model bisnis ini adalah bahwa keberlanjutannya akan sangat bergantung pada konsistensi inovasi dan kemampuan menjaga relevansi di tengah tren yang cepat berubah. Langkah Gibran yang kini lebih fokus pada jalur pengabdian publik mungkin mengubah keterlibatan operasionalnya, namun sistem yang telah dibangun di Goola membuktikan bahwa produk lokal memiliki potensi skalabilitas yang masif. Bagi para calon entrepreneur, bisnis es doger Gibran memberikan pesan kuat: jangan pernah meremehkan produk pasar, karena dengan kemasan dan strategi yang tepat, es doger pun bisa bernilai jutaan dollar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow