Gibran Partai Apa? Simak Status Politik Wakil Presiden Terpilih Ini

Gibran Partai Apa? Simak Status Politik Wakil Presiden Terpilih Ini

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan mengenai gibran partai apa menjadi salah satu topik paling hangat yang diperbincangkan di panggung politik nasional dalam satu tahun terakhir. Sebagai sosok muda yang berhasil melesat dari kursi Walikota Surakarta menjadi Wakil Presiden Terpilih pada Pemilu 2024, dinamika keanggotaan partai Gibran Rakabuming Raka memang sangat menarik untuk diikuti. Publik sering kali dibuat bertanya-tanya, apakah ia masih menjadi bagian dari PDI Perjuangan, ataukah sudah resmi berseragam partai lain di bawah naungan Koalisi Indonesia Maju.

Secara formal, perjalanan karier politik Gibran bermula dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namun, seiring dengan keputusan politik yang diambil menjelang pendaftaran Pilpres 2024, status tersebut mengalami perubahan drastis. Artikel ini akan membedah secara mendalam mengenai fakta hukum, pernyataan resmi dari para elite partai, hingga spekulasi masa depan politik putra sulung Presiden Joko Widodo ini untuk menjawab rasa penasaran publik mengenai gibran partai apa sebenarnya.

Gibran Rakabuming Raka saat menjabat Walikota Solo
Gibran Rakabuming Raka memulai debut politiknya melalui jalur PDIP saat mencalonkan diri sebagai Walikota Solo.

Sejarah Kedekatan Gibran Rakabuming Raka dengan PDIP

Sebelum membahas lebih jauh tentang gibran partai apa untuk saat ini, kita perlu menengok kembali sejarahnya bersama banteng moncong putih. Gibran secara resmi bergabung dengan PDI Perjuangan pada September 2019. Langkah ini sempat mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya Gibran lebih dikenal sebagai pengusaha kuliner yang mengaku tidak tertarik terjun ke dunia politik praktis. Pendaftaran Gibran di kantor DPC PDIP Solo menjadi gerbang pembuka baginya untuk mendapatkan tiket pencalonan Walikota Surakarta pada Pilkada 2020.

Selama masa jabatannya sebagai Walikota Solo, Gibran dianggap sebagai kader muda potensial yang sering mendapatkan arahan langsung dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. PDIP menjadi kendaraan utama yang mengantarkannya memenangkan kursi kepemimpinan di Solo dengan angka kemenangan yang sangat dominan. Loyalitas Gibran kepada PDIP pada masa itu tidak diragukan, mengingat ia adalah pemegang Kartu Tanda Anggota (KTA) resmi partai tersebut.

Dinamika Pilpres 2024 dan Perubahan Haluan

Ketegangan mulai muncul ketika nama Gibran mencuat sebagai kandidat kuat pendamping Prabowo Subianto. Keputusan Gibran untuk menerima pinangan sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) menciptakan paradoks politik yang besar. Pasalnya, PDIP telah resmi mengusung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Secara etika dan aturan internal partai, seorang kader tidak diperbolehkan mendukung atau maju melalui koalisi lain di luar garis instruksi partai.

"Secara de facto, keanggotaan Gibran di PDIP telah berakhir sejak ia mendaftarkan diri ke KPU sebagai cawapres dari pasangan yang tidak diusung oleh PDIP." - Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP.

Gibran Partai Apa? Status Terkini Setelah Dipecat PDIP

Hingga saat ini, status formal Gibran bisa dikatakan sebagai tokoh politik independen atau non-partai. Meskipun banyak yang masih bertanya gibran partai apa, kenyataannya PDIP telah memberikan pernyataan tegas bahwa Gibran bukan lagi bagian dari keluarga besar partai tersebut. Pemutusan hubungan ini terjadi secara otomatis karena adanya pelanggaran berat terhadap AD/ART partai terkait disiplin organisasi.

Pihak PDIP menyatakan bahwa KTA Gibran sudah tidak berlaku lagi, meskipun proses administrasinya sempat memicu polemik panjang mengenai apakah Gibran mengembalikan KTA atau dipecat secara tidak hormat. Namun, poin intinya adalah Gibran sudah tidak memiliki keterikatan lagi dengan partai yang membesarkannya di awal karier politik tersebut.

Timeline Status Politik Gibran Rakabuming Raka

Untuk memahami perjalanan status politiknya, berikut adalah ringkasan data penting mengenai perpindahan haluan politik Gibran:

Tahun Peristiwa Penting Status Partai
2019 Pendaftaran resmi sebagai anggota PDIP di Solo Anggota Resmi PDIP
2020 Memenangkan Pilkada Solo dengan usungan PDIP Kader PDIP (Walikota)
Oktober 2023 Diumumkan sebagai Cawapres Prabowo Subianto Status Digantung
November 2023 Pendaftaran resmi ke KPU bersama KIM Dinyatakan Keluar dari PDIP
2024 Terpilih sebagai Wakil Presiden RI Independen (Dekat dengan KIM)
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka saat kampanye
Pasangan Prabowo-Gibran didukung oleh koalisi besar yang terdiri dari beberapa partai utama seperti Gerindra dan Golkar.

Spekulasi Gibran Bergabung dengan Partai Golkar

Setelah resmi keluar dari PDIP, spekulasi mengenai gibran partai apa selanjutnya mengarah kuat ke Partai Golkar. Isu ini diperkuat dengan fakta bahwa Partai Golkar adalah partai pertama yang secara resmi mengumumkan dukungan kepada Gibran sebagai cawapres melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas). Banyak analis politik memprediksi bahwa Golkar adalah pelabuhan paling logis bagi Gibran untuk mengamankan dukungan legislatif di masa depan.

Kehadiran Gibran di beberapa acara besar Golkar dengan mengenakan batik kuning sempat memperkuat rumor tersebut. Namun, hingga detik ini, belum ada pengumuman resmi berupa pemberian KTA kuning kepada Gibran. Beberapa petinggi Golkar menyatakan pintu selalu terbuka lebar bagi Gibran, namun keputusan akhir tetap berada di tangan sang Wakil Presiden Terpilih tersebut.

  • Alasan Golkar Tertarik: Gibran merepresentasikan pemilih muda dan memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi.
  • Potensi Jabatan: Ada spekulasi Gibran bisa menempati posisi strategis seperti Dewan Pembina jika bergabung.
  • Strategi Politik: Bergabung dengan partai besar akan memperkuat posisi tawarnya di hadapan parlemen.

Mungkinkah Gibran Menjadi Kader Partai Gerindra?

Selain Golkar, Partai Gerindra juga menjadi opsi yang sering disebut dalam diskusi mengenai gibran partai apa. Sebagai pendamping Prabowo Subianto, hubungan emosional Gibran dengan Gerindra sangat kuat. Namun, para pengamat menilai Gibran kemungkinan besar tidak akan bergabung dengan Gerindra agar tidak terjadi penumpukan dominasi keluarga di dalam satu partai, mengingat kedekatan hubungan ayahnya dengan koalisi tersebut.

Status Gibran yang tetap menjadi sosok "non-partisan" untuk sementara waktu dipandang sebagai strategi cerdas untuk menjaga keseimbangan kekuatan di dalam Koalisi Indonesia Maju. Dengan tidak memihak salah satu partai secara eksklusif, Gibran tetap bisa diterima oleh semua anggota koalisi seperti PAN, Demokrat, dan PSI tanpa menimbulkan kecemburuan antar partai.

Gibran Rakabuming Raka bersama Kaesang Pangarep
Keluarga Jokowi memiliki sebaran afiliasi politik yang unik, termasuk Kaesang Pangarep yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PSI.

Hubungan Gibran dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Jangan lupakan faktor Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sejak adiknya, Kaesang Pangarep, menjabat sebagai Ketua Umum PSI, banyak yang menduga Gibran akan menyusul ke partai yang mengidentikkan diri sebagai partainya anak muda tersebut. PSI secara konsisten menggaungkan narasi "Jokowisme" yang sangat sejalan dengan profil politik Gibran.

Meskipun Gibran memberikan dukungan penuh terhadap kepemimpinan adiknya di PSI, ia secara diplomatis selalu menyatakan bahwa dirinya masih fokus pada tugas-tugas kenegaraan dan belum memikirkan untuk masuk ke partai baru dalam waktu dekat. Hal ini membuat jawaban atas pertanyaan gibran partai apa masih berada di area abu-abu secara administratif, namun sangat jelas secara arah dukungan politik.

Kesimpulan: Gibran Masih Menjadi 'Free Agent' di Politik Indonesia

Sebagai rangkuman untuk menjawab pertanyaan gibran partai apa, secara administratif Gibran Rakabuming Raka saat ini adalah tokoh politik independen. Ia tidak lagi memiliki keterikatan dengan PDI Perjuangan dan belum secara resmi mendaftarkan diri atau memegang kartu anggota partai politik mana pun di Koalisi Indonesia Maju, baik itu Golkar, Gerindra, maupun PSI.

Posisi sebagai Wakil Presiden Terpilih tanpa partai memberikan keuntungan tersendiri bagi Gibran untuk bermanuver dan menjadi jembatan antar berbagai kepentingan politik. Namun, dalam jangka panjang, besar kemungkinan Gibran akan memilih satu bendera sebagai basis kekuatan politiknya menuju 2029. Apakah itu akan menjadi kuningnya Golkar atau tetap menjaga status independennya, hanya waktu yang akan menjawab dinamika politik yang sangat cair di Indonesia ini.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow