Gibran Bisnis Apa Saja yang Menjadi Gurita Ekonominya
Sebelum dikenal luas sebagai politisi dan Wakil Presiden terpilih, publik lebih dahulu mengenal sosok Gibran Rakabuming Raka sebagai seorang pengusaha muda yang nyentrik dan inovatif. Banyak orang yang penasaran mengenai gibran bisnis apa sebenarnya hingga ia bisa membangun reputasi kemandirian ekonomi tanpa mengandalkan nama besar ayahnya, Presiden Joko Widodo. Gibran memulai perjalanannya dari titik nol di kota Solo, membangun katering kecil-kecilan sebelum akhirnya merambah ke industri skala nasional dengan pendanaan modal ventura.
Ketertarikan masyarakat terhadap lini usaha Gibran bukan tanpa alasan. Strategi pemasaran yang ia gunakan cenderung berani, sering kali menggunakan pendekatan media sosial yang kasual namun efektif. Dari martabak hingga platform pencarian kerja, portofolio bisnisnya mencakup berbagai sektor yang menyasar pasar milenial dan Gen Z. Artikel ini akan membedah secara mendalam struktur bisnis yang pernah dan masih dikelola oleh Gibran, serta bagaimana status bisnis-bisnis tersebut setelah ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya di ranah pengabdian publik.
Awal Mula Perjalanan Bisnis Melalui Chili Pari
Langkah pertama Gibran di dunia profesional dimulai bukan dengan posisi mentereng di perusahaan besar, melainkan dengan mendirikan Chili Pari pada tahun 2010. Bisnis ini bergerak di bidang jasa katering dan penyedia kebutuhan pernikahan (wedding organizer). Keputusan ini sempat mengejutkan publik karena Gibran memilih jalur yang sangat berbeda dari bisnis mebel yang digeluti ayahnya. Ia melihat peluang besar di industri pernikahan di Solo yang saat itu masih membutuhkan sentuhan modernitas dan profesionalisme tinggi.
Chili Pari bukan sekadar katering biasa. Gibran mengintegrasikan layanan gedung, dekorasi, hingga tata rias dalam satu paket. Fokus utamanya adalah kualitas rasa dan pelayanan yang perfeksionis. Keberhasilan Chili Pari inilah yang menjadi fondasi finansial dan mental bagi Gibran sebelum ia melakukan ekspansi ke bisnis-bisnis yang lebih masif secara branding.

Markobar: Revolusi Martabak Manis di Indonesia
Jika ditanya gibran bisnis apa yang paling ikonik, maka jawabannya adalah Markobar (Martabak Kota Barat). Meskipun Markobar sudah ada sejak tahun 1996 di Solo, Gibran adalah sosok yang berhasil melakukan rebranding dan ekspansi nasional. Ia mengubah martabak manis yang awalnya merupakan jajanan kaki lima biasa menjadi produk gaya hidup dengan varian 8 rasa yang menggunakan topping premium seperti KitKat, Nutella, dan Toblerone.
Markobar menjadi sangat populer karena gaya komunikasinya yang unik di Twitter (sekarang X). Gibran tidak ragu untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan, bahkan menghadapi kritik dengan gaya yang santai namun tetap profesional. Hingga saat ini, Markobar telah memiliki puluhan cabang di berbagai kota besar di Indonesia, menjadikannya salah satu pionir martabak modern di tanah air.
Ekspansi Kuliner dan Kolaborasi Strategis
Keberhasilan Markobar membuka pintu bagi Gibran untuk berkolaborasi dengan tokoh-tokoh kreatif lainnya. Salah satu kolaborasi paling signifikan adalah Mangkokku, sebuah startup kuliner yang didirikan bersama adiknya, Kaesang Pangarep, serta Chef Arnold Poernomo dan Randy Kartadinata. Mangkokku fokus pada sajian rice bowl dengan cita rasa nusantara yang dikemas secara modern.
Berbeda dengan Chili Pari yang dikelola secara kekeluargaan, Mangkokku sejak awal sudah dikelola dengan manajemen profesional dan berhasil mendapatkan suntikan dana dari firma modal ventura seperti Alpha JWC Ventures. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis yang dibangun Gibran memiliki scalability yang diakui oleh investor profesional.
| Nama Bisnis | Sektor | Status Saat Ini | Produk Utama |
|---|---|---|---|
| Chili Pari | Katering & WO | Aktif | Jasa Pernikahan |
| Markobar | Kuliner (Snack) | Aktif | Martabak 8 Rasa |
| Mangkokku | F&B (Rice Bowl) | Sangat Aktif | Rice Bowl Nusantara |
| Goola | Minuman | Merger/Pivoting | Minuman Tradisional Modern |
| Tugas Negara Bos | Apparel | Terbatas | Jas Hujan & Kaos |
Goola dan Inovasi Minuman Tradisional
Selain makanan berat dan camilan, Gibran juga mencoba peruntungan di industri minuman melalui brand Goola. Visi dari Goola adalah menjadikan minuman tradisional Indonesia seperti Es Doger dan Es Kacang Hijau bisa bersaing dengan tren minuman kekinian seperti boba atau kopi susu. Goola sempat mendapatkan pendanaan sebesar US$ 5 juta (sekitar Rp 71 miliar) dari Alpha JWC Ventures untuk mempercepat ekspansi gerainya.
"Visi kami adalah membawa produk lokal naik kelas. Jika kopi luar negeri bisa mendunia, mengapa minuman tradisional kita tidak?" - Kutipan semangat kewirausahaan yang sering digaungkan dalam pengembangan brand lokal.

Bisnis Sektor Teknologi dan Digital
Tidak puas hanya di sektor F&B (Food and Beverage), Gibran juga merambah ke dunia digital. Ia mendirikan sebuah aplikasi bernama Madhang, yang merupakan platform marketplace khusus masakan rumah tangga. Aplikasi ini bertujuan untuk memberdayakan ibu-ibu rumah tangga agar bisa menjual masakan mereka ke lingkungan sekitar secara digital.
Selain itu, terdapat pula Kerjahub, sebuah platform digital yang berfungsi sebagai penyambung antara pencari kerja dengan penyedia lapangan kerja. Melalui aplikasi ini, Gibran mencoba memberikan solusi atas masalah pengangguran dengan cara yang lebih taktis dan berbasis data. Meski beberapa aplikasi ini mengalami tantangan dalam hal retensi pengguna, inisiatif ini menunjukkan ketertarikan Gibran pada ekonomi berbagi (sharing economy).
Diversifikasi ke Produk Kreatif dan Apparel
Sisi kreatif Gibran juga tertuang dalam bisnis apparel. Salah satu yang paling viral adalah Tugas Negara Bos, sebuah brand yang menjual jas hujan dengan logo garuda dan desain yang minimalis namun ikonik. Brand ini sempat menjadi perbincangan hangat ketika produknya digunakan oleh banyak publik figur. Selain jas hujan, brand ini juga merilis produk-produk harian seperti kaos dengan desain-desain yang membawa pesan sosial atau sekadar elemen jenaka yang sesuai dengan karakter Gibran.

Manajemen Transisi Setelah Menjadi Pejabat Publik
Banyak yang mempertanyakan nasib gurita bisnis ini setelah Gibran menjabat sebagai Wali Kota Solo dan kini menjadi Wakil Presiden terpilih. Sesuai dengan aturan dan etika politik untuk menghindari konflik kepentingan, Gibran secara bertahap telah menyerahkan manajemen dan kepemilikan operasional bisnis-bisnis tersebut kepada adiknya, Kaesang Pangarep.
- Konsolidasi Aset: Sebagian besar bisnis F&B kini berada di bawah payung manajemen Hebat (PT Harapan Bangsa Kita).
- Pengawasan Profesional: Melibatkan tim manajemen profesional untuk memastikan bisnis tetap berjalan tanpa intervensi politik.
- Fokus Pengabdian: Gibran secara resmi menyatakan bahwa ia tidak lagi mengurusi hal-hal teknis di perusahaan agar bisa fokus pada kebijakan publik.
Masa Depan Portofolio Bisnis Sang Wapres Terpilih
Meninjau kembali pertanyaan mengenai gibran bisnis apa, dapat disimpulkan bahwa ia memiliki portofolio yang sangat beragam, mulai dari sektor tradisional katering hingga startup berbasis aplikasi. Keberaniannya dalam mengambil risiko dan kemampuan melihat tren pasar menjadikan bisnis-bisnisnya mampu bertahan di tengah persaingan ketat industri kuliner tanah air.
Meskipun secara de facto kepemimpinan telah berpindah tangan, nilai-nilai kewirausahaan yang ia tanamkan pada brand-brand seperti Markobar dan Mangkokku tetap menjadi standar bagi pengusaha muda lainnya. Masa depan bisnis-bisnis tersebut kini sangat bergantung pada kemampuan Kaesang dan tim profesionalnya dalam melakukan inovasi berkelanjutan. Bagi masyarakat, perjalanan Gibran dari seorang penjual martabak hingga menjadi orang nomor dua di Indonesia tetap menjadi salah satu fenomena menarik dalam sejarah ekonomi dan politik modern Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow