Perusahaan Milik Gibran Rakabuming Raka dan Gurita Bisnisnya
Sebelum dikenal luas sebagai Wali Kota Solo dan kini menjadi Wakil Presiden terpilih, sosok Gibran Rakabuming Raka lebih dahulu memancangkan taringnya di dunia profesional sebagai seorang pengusaha. Deretan perusahaan milik gibran yang tersebar di berbagai sektor, terutama kuliner dan teknologi, mencerminkan semangat kewirausahaan yang kuat sejak usia muda. Ketertarikan Gibran pada dunia bisnis dimulai sekembalinya ia dari studi di luar negeri, di mana ia memilih untuk membangun jalannya sendiri ketimbang mengekor pada bisnis mebel milik keluarganya.
Kiprah bisnisnya tidak jarang menjadi sorotan publik, baik karena inovasi produk yang ditawarkan maupun karena keterkaitannya dengan nama besar sang ayah. Namun, secara objektif, banyak dari lini bisnis tersebut yang mampu bertahan dan berkembang di pasar yang sangat kompetitif. Memahami struktur dan jenis perusahaan milik gibran memberikan gambaran mengenai bagaimana strategi diversifikasi dijalankan dalam ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia kontemporer. Artikel ini akan membedah secara mendalam apa saja unit bisnis yang pernah dan masih dikelola oleh putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut.
Awal Mula Dinasti Bisnis Chilli Pari dan Markobar
Langkah pertama Gibran di dunia usaha dimulai dengan mendirikan Chilli Pari pada tahun 2010. Berbeda dengan ekspektasi banyak orang yang mengira ia akan meneruskan bisnis perkayuan, Gibran justru memilih industri katering. Chilli Pari bukan sekadar penyedia makanan, melainkan layanan one-stop wedding solution yang mencakup dekorasi, gedung, hingga rias pengantin. Keberaniannya mengambil risiko di sektor jasa ini menjadi fondasi awal bagi reputasinya sebagai pengusaha mandiri di Solo.

Keberhasilan Chilli Pari kemudian diikuti oleh fenomena nasional bernama Markobar (Martabak Kota Barat). Bisnis ini sebenarnya adalah bentuk modernisasi dari kedai martabak yang sudah ada sejak tahun 1996 di Solo. Di bawah tangan Gibran, Markobar bertransformasi menjadi merek waralaba yang populer dengan inovasi 8 rasa dalam satu loyang. Markobar berhasil melakukan ekspansi ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, hingga Makassar, dan menjadi salah satu ikon kuliner kekinian yang sangat identik dengan sosok Gibran.
Ekspansi Kuliner Melalui Kolaborasi Strategis
Tidak berhenti pada martabak dan katering, Gibran memperluas jaringannya melalui kolaborasi dengan sang adik, Kaesang Pangarep, serta tokoh kuliner lainnya. Salah satu yang paling menonjol adalah Mangkokku, sebuah bisnis rice bowl yang didirikan bersama Chef Arnold Poernomo dan pengusaha kuliner Randy Kartadinata. Mangkokku berhasil menarik minat investor besar dan mendapatkan suntikan dana jutaan dolar untuk memperluas jaringannya di seluruh Indonesia.
Selain Mangkokku, Gibran juga sempat meluncurkan Goola, sebuah merek minuman tradisional Indonesia yang dikemas secara modern untuk bersaing dengan merek-merek minuman boba internasional. Goola sendiri tercatat pernah mendapatkan pendanaan sebesar US$ 5 juta dari firma modal ventura Alpha JWC Ventures, yang membuktikan bahwa model bisnis yang dirancang memiliki skalabilitas yang diakui oleh para profesional di bidang investasi.
Diversifikasi ke Sektor Teknologi dan Jasa Kreatif
Selain sektor kuliner yang menjadi wajah utamanya, perusahaan milik gibran juga merambah ke dunia teknologi dan sumber daya manusia. Salah satunya adalah Kerjaholic, sebuah aplikasi yang menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja, khususnya untuk pekerja lepas atau freelance. Platform ini menunjukkan ketertarikan Gibran dalam memanfaatkan digitalisasi untuk menyelesaikan masalah pengangguran dan akses lapangan kerja di tingkat lokal.
Gibran juga memiliki unit bisnis di bidang jasa perbaikan produk Apple yang diberi nama iColor. Bisnis ini menawarkan layanan reparasi gadget dengan model jemput bola atau datang langsung ke rumah pelanggan, sebuah model bisnis yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat urban saat ini. Kehadiran iColor mempertegas bahwa portofolio bisnis Gibran tidak terbatas pada satu industri saja, melainkan mencakup kebutuhan gaya hidup digital masyarakat luas.
| Nama Perusahaan/Brand | Sektor Bisnis | Keterangan Singkat |
|---|---|---|
| Chilli Pari | Katering & Wedding | Layanan jasa pernikahan lengkap di Solo. | Markobar | Kuliner (Martabak) | Pelopor martabak manis dengan varian topping modern. | Mangkokku | Kuliner (Rice Bowl) | Kolaborasi dengan Kaesang dan Chef Arnold Poernomo. | Goola | Minuman Tradisional | Modernisasi minuman khas Indonesia seperti Es Doger. | iColor | Jasa & Teknologi | Layanan reparasi produk Apple (iPhone/MacBook). | Kerjaholic | Platform Digital | Aplikasi pencarian kerja dan networking. | Tugas Negara Bos | Fashion/Produksi | Produksi jas hujan dengan desain ikonik. |

Bisnis di Luar Kuliner: Dari Jas Hujan hingga Kimia
Menariknya, ada juga bisnis yang mungkin jarang terdengar namun merupakan bagian dari perjalanan kewirausahaannya. Gibran pernah meluncurkan merek jas hujan dengan brand Tugas Negara Bos. Produk ini sempat viral karena desainnya yang unik dan dipromosikan melalui media sosial dengan gaya yang kasual. Meskipun terlihat seperti bisnis sampingan, hal ini menunjukkan insting Gibran dalam melihat peluang dari hal-hal yang bersifat fungsional namun bisa dikemas secara kreatif.
"Seorang pengusaha harus bisa melihat apa yang dibutuhkan pasar, bukan hanya apa yang ingin dia buat. Inovasi adalah kunci agar bisnis tidak tertinggal zaman."
Selain itu, terdapat laporan mengenai keterlibatan dalam bisnis yang lebih berat melalui PT Rakabu Sejahtera. Perusahaan ini bergerak di berbagai bidang termasuk pengolahan kayu, namun seiring berjalannya waktu, fokus Gibran lebih banyak terserap pada pengembangan merek-merek retail dan konsumer (B2C) yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda. Hal ini sejalan dengan citranya sebagai representasi generasi milenial dalam dunia usaha.
Nasib Bisnis Setelah Terjun ke Dunia Politik
Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana nasib perusahaan milik gibran setelah dirinya resmi menjabat sebagai pejabat publik. Secara etika dan regulasi, seorang pejabat negara diharapkan untuk melepaskan peran aktifnya dalam pengelolaan perusahaan guna menghindari konflik kepentingan. Gibran sendiri telah menyatakan bahwa pengelolaan bisnis-bisnisnya, terutama Markobar dan Chilli Pari, telah diserahkan sepenuhnya kepada sang adik, Kaesang Pangarep.

Pengalihan manajemen ini merupakan langkah standar dalam tata kelola pemerintahan yang baik. Meskipun Gibran tidak lagi mengurusi operasional harian seperti menentukan menu baru atau memantau laporan keuangan harian, namun jejak kepemimpinan dan sistem yang ia bangun tetap menjadi pondasi utama keberlangsungan bisnis tersebut. Transisi ini menunjukkan bahwa bisnis yang dibangun dengan sistem yang kuat tetap dapat berjalan meskipun pendirinya berpindah haluan pengabdian.
Evolusi dari Pengusaha Menjadi Pemimpin Publik
Perjalanan panjang mengelola berbagai perusahaan milik gibran secara tidak langsung membentuk karakter kepemimpinannya di ranah politik. Pengalaman menghadapi birokrasi saat mendirikan usaha, mengelola ratusan karyawan, hingga bernegosiasi dengan investor ventura memberikan perspektif pragmatis dalam mengambil kebijakan publik. Banyak yang menilai bahwa gaya kepemimpinannya yang berorientasi pada hasil (result-oriented) merupakan buah dari pengalamannya bertahun-tahun di dunia bisnis.
Sebagai penutup dari penelusuran portofolio ini, kita dapat melihat bahwa keberhasilan bisnis Gibran bukan semata-mata karena nama besar, melainkan adanya kemampuan dalam membaca tren pasar dan keberanian melakukan eksekusi. Dari katering sederhana di Solo hingga platform digital berskala nasional, gurita bisnis ini telah memberikan kontribusi pada ekosistem UMKM dan lapangan kerja di Indonesia. Meskipun kini ia berada di puncak karier politik, warisan kewirausahaannya tetap menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana anak muda Indonesia dapat membangun narasi ekonominya sendiri.
Masa Depan Bisnis dan Etika Kepemimpinan
Melihat perkembangan posisi politik Gibran yang semakin strategis, tantangan terbesar bagi perusahaan milik gibran ke depan bukan lagi soal profitabilitas semata, melainkan transparansi dan akuntabilitas. Publik akan terus memantau apakah bisnis-bisnis tersebut mendapatkan keistimewaan atau tetap bersaing secara sehat di pasar terbuka. Sejauh ini, langkah pengalihan aset dan manajemen kepada pihak keluarga lainnya merupakan upaya mitigasi yang paling rasional untuk menjaga integritas jabatan publik yang diembannya.
Ke depannya, sangat mungkin kita akan melihat lebih banyak inovasi yang lahir dari ekosistem bisnis yang pernah ia rintis, meski tanpa campur tangan langsung darinya. Rekomendasi bagi para pengusaha muda adalah mengambil pelajaran dari cara Gibran melakukan diversifikasi: jangan terpaku pada satu sektor, gunakan kekuatan narasi lokal, dan jangan ragu untuk berkolaborasi dengan ahli di bidangnya. Gurita bisnis ini pada akhirnya menjadi bukti bahwa sinergi antara ide kreatif dan eksekusi yang konsisten adalah kunci utama dalam membangun imperium usaha yang berkelanjutan di era modern.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow